Jumat, 16 Mei 2014

Lima Alasan Mengapa SMS Mahasiswa Tidak Dibalas Dosen

Komunikasi mahasiswa dengan dosen saat ini berbeda dengan sepuluh tahun silam. Saat itu mahasiswa ketika akan menghadap dosen membuat janji terlebih dahulu atau melihat jadwal konsultasi yang diumumkan oleh dosen kepada mahasiswanya. Mahasiswa rela menunggu dari pagi hingga sore untuk bertemu dengan dosennya.

Saat ini, mahasiswa bisa SMS atau bahkan menelpon dosennya. Namun tidak semua dosen bersedia ditelpon karena kesibukannya. Ada pula dosen yang tidak menerima SMS dan maunya ditelpon. Atau bahkan ada juga dosen tidak berkenan untuk ditelpon maupun SMS, akan tetapi mahasiswa datang sesuai jadwal yang diberikan dosen tersebut.

Ada berbagai macam karakteristik dosen yang mahasiswa harus memahaminya. Kali ini, di tulisan ini penulis akan membahas tentang dosen yang membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk mengirimkan SMS kepadanya. Tetapi mengapa dosen tersebut tidak selalu membalas SMS tersebut.

Berikut ini lima alasan mengapa dosen tidak membalas SMS mahasiswa bersangkutan:

1. SMS Mahasiswa Tanpa Memberikan Identitas Pengirimnya

Dosen tentu tidak akan menyimpan semua nomor mahasiswanya kecuali ada kepentingan, maka jangan berharap dosen akan tahu ketika seorang mahasiswa mengirimkan SMS kepada dosen tersebut tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Jadi, jika pembaca adalah seorang mahasiswa dan memang tidak ada hubungan apapun terhadap dosen bersangkutan, sebaiknya sertakan jati diri pembaca.

Sebagai seorang dosen, penulis tidak selalu membalas SMS yang tidak jelas pengirimnya. Bahkan cenderung penulis cuwekin. Kalau sedang tidak sibuk, penulis sempatkan membalas dengan pertanyaan, "Maaf, ini siapa?".

2. SMS yang Dikirimkan Mahasiswa Bernada Memerintah atau Mengatur

Kadang, sebagai dosen bisa memahami kondisi mahasiswa saat ini. Tetapi secara umum, SMS yang bernada mengatur terkadang membuat dosen tidak berkenan untuk membalasnya. Seperti apa saja sih contoh SMS yang bernada mengatur atau memerintah? Berikut ini contohnya:
  1. Pak, bisa ketemu saya saat ini di kampus?
  2. Pak, saya ternyata tidak bisa jam 8 pagi, sore saja jam 3 ya Pak?
  3. Pak, kirimi saya materi pertemuan kemarin dong!
  4. Pak, saya sudah di ruangan dosen. Saya tunggu sekarang Pak.
Nah, pernahkah pembaca sebagai seorang mahasiswa mengirimkan SMS senada seperti di atas? Silakan diperbaiki lagi SMSnya.

3. Isi SMS Mahasiswa Menggunakan Huruf Kapital

Sepertinya hal ini sederhana, tetapi dirasa kurang sopan bagi sebagian dosen. Huruf kapital seakan menunjukkan nada marah, kesal atau nada perintah. Coba bayangkan jika SMS-nya seperti ini:
  1. BAPAK, SAYA SUDAH DI KAMPUS.
  2. MAAF, BAPAK DI MANA?
  3. BAPAK, NANTI MASUK TIDAK?
  4. PAK HARI INI DATANG TIDAK?
4. Mahasiswa Mengirimkan SMS yang Tidak Penting atau Tidak Perlu

Ini juga sering dilakukan oleh mahasiswa. Sebaiknya hal ini dihindari karena tidak semua dosen berkenan dengan SMS yang tidak penting atau tidak perlu. Contoh:
  1. Pak, nanti kelasnya kosong atau tidak?
  2. Pak, tugasnya sudah saya kirim lewat email.
5. HP Dosen Bermasalah

Nah, kalau ini bukan kesalahan mahasiswa. Sesopan apapun, SMS mahasiswa tidak akan langsung dibalas kalau HP dosen sedang bermasalah. Tetapi biasanya, dosen akan membalasnya setelah HP-nya normal kembali. Terus apa saja yang harus diperhatikan kalau mau mengirim SMS kepada dosen. Silakan baca artikel "Lima hal yang harus diperhatikan saat mengirim SMS kepada dosen".

Ini loh kalau SMS-nya tidak jelas pengirimnya. SMS-nya juga tidak jelas.
Tiba-tiba nongol "gimana mas"

Ok, semoga tulisan sederhana ini bisa membantu memberi gambaran mahasiswa sekarang agar ketika mengirimkan SMS kepada dosen bisa lebih beretika.

19 komentar:

  1. Isi artikel di sini cenderung mendiskreditkan mahasiswa. Kata seurieus mahasiswa juga manusia, dosen juga manusia. kalau memang mahasiswanya salah dalam sms, bukan berarti tidak dibalas.

    itu menurut saya.

    BalasHapus
  2. sedikit 'sensitif' soal interaksi dengan menggunakan gadget antara "dosen-mahasiswa" tapi ada beberapa poit tanggapan dari saya pak,,
    Dulu saya pernah menjadi mahasiswa dan alhamdulillah sudah menjadi dosen... yang ingin saya tanggapi :
    1. Soal isi sms yang isinya 'Huruf Kapital', terkadang ada pula hp yang memang karakter penulisan sms nya otomatis menggunakan huruf kapital jadi harus kita sendiri yang mengaturnya, dan mungkin mahasiswa itu lupa untuk mengatur penulisan smsnya itu. *insya Allah seperti itu yah pak*
    2. Tentang sms yang tidak penting, yang 'pak, tugas sudah sy kirim lewat email'. saya pikir ini sekedar memberitahukan bahwa mahasiswa itu telah melaksanakan apa yang telah bapak perintahkan,,,dan saat saya berperan sebagai dosen maka sy hanya perlu membalasnya singkat saja "ok atau ya". tujuan mahasiswa tersebut bukan soal penting ataupun tidak, namun hanya sekedar memberikan informasi.
    saya yakin, ditahun bapak kuliah mungkin kedekatan mahasiswa dengan dosen kurang intens.
    ini sekedar tanggapan yah pak,,, jika ada kata yang kurang berkenan sy mohon maaf... makasih pak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih tanggapannya mbak Tha Cuap, mungkin sekarang dipanggil bu ya, kan sudah dosen.

      Pertama saya ucapkan selamat sudah menjadi dosen.
      Saya dulu, tahun 2000, pertama kali punya HP, HP yang sangat Jadul. Defaultnya adalah huruf Capital, tetapi saya dulu tidak pernah SMS-an dengan dosen. Saya tidak berani jaman tersebut. Saya lebih suka menunggu, menemui kemudian membuat janji secara langsung. Tetapi kalau SMS teman atau saudara, saya berusaha sesopan mungkin. Jadi masalah huruf besar kecil meskipun repot saya usahakan. Itulah kesungguhan kita dalam menerapkan sopan santun.

      Saat awal pertama kali saya menjadi dosen, mahasiswa saya tidak banyak, saya tidak hanya menyebarkan nomor HP dan SMS dengan para mahasiswa, tetapi saya mencoba mengenal nama mahasiswa satu per satu. Namun setelah saya mulai bertambah usia, saya pun mulai mengajar banyak kelas, bahkan terhitung ada lima kampus yang saya ajar. Saya sering memberikan tugas kepada mahasiswa untuk melatih kemampuannya.

      Coba mbak Tha bayangkan ketika setiap saya memberi tugas lewat email, mereka konfirmasi lewat SMS. Bisa-bisa HP berbunyi terus hampir setiap lima menit atau bahkan setiap menit yang isinya hanyalah konfirmasi. Ketika itu terus berlangsung, bisa jadi setiap ada bunyi SMS sang dosen akan mengira itu selalu konfirmasi.

      Ketika ada SMS penting sang dosen tidak akan langsung membukanya. Bayangkan saja ketika saya memiliki mahasiswa 300an - hingga 400an mengirimkan SMS konfirmasi, apa tidak membuat inbok full.

      Email, apalagi saat ini teknologi sudah canggih, notifikasi email secara langsung sudah masuk di HP, tentu dengan ringtone yang dibedakan dengan SMS. Kalaupun sama, tool untuk membuka berbeda dengan SMS. Umumnya sudah canggih. Sementara SMS ya gitu-gitu saja. Saat kita mencari kiriman, sampai saat ini tidak secanggih tool email.

      Bayangkan ada separo saja konfirmasi, 200 SMS mahasiswa masuk, apakah saya harus membuka, membalas satu per satu saat itu?

      Saya akan membuka email pada saatnya saya akan melakukan korseksi tugas, tidak setiap ada email mahasiswa masuk saya langsung koreksi. Begitu mbak Tha Cuap.

      Yang terakhir, tulisan mbak baik, rapi, sopan, saya kira tidak ada yang salah, justru ini bagus ketika mbak Tha Cuap mengungkapkan uneg-unegnya dengan penuh kejujuran, dan saya juga mengungkapkan uneg-uneg dengan penuh kejujuran pula. Di sinilah nanti akan menemui titik temu.

      Kita tidak selalu bisa saling memahami tanpa ada komunikasi, dan tentu masing-masing dosen memiliki karakteristik berbeda, kita sebagai mahasiswa harus pandai-pandai memilah dan menyesuaikan karakteristik dosen.

      Terimakasih kembali atas tanggapannya. :)

      Hapus
    2. itulah resiko pekerjaan...... tinggal bagaimana pribadi masing-masing menanggapinya.....

      Hapus
    3. Maksud resiko pekerjaan?
      Dosen harusnya tidak perlu menuliskan hal itukah di atas?
      Jadi dosen hanya mengajarkan materi saja?
      Etika tidak diajarkan?

      Hapus
  3. Tulisan ini saran yang baik, kalo bisa diperbaiki mengapa tidak? Memilih bertahan untuk mendebat silahkan saja itu pilihan. Jika Anda mahasiswa lebih memilih mendebat daripada memperbaiki itu juga pilihan. Jika saya dalam posisi sebagai mahasiswa saya pilih memperbaiki. Karena sy berharap respon yang lebih baik.

    BalasHapus
  4. Tulisan kayak gini harus dishare nih.
    Ijin share pak.

    BalasHapus
  5. Kalau ini langsung dianggap 'mendiskreditkan mahasiswa' berarti anda tipe orang yg tidak suka nasehat. posting ini sifatnya hanya saran/nasihat.
    Dosen dan mahasiswa perlu dibangun komunikasi yg baik itu kuncinya. Untuk membangun itu dibutuhkan dasar attitude yg baik diantara keduanya.
    Orangtua dan anak juga manusia tp bukan berarti sikapnya sama dlam berinteraksi. Sikap dosen tidak membalas sms yg kurang sopan bentuk ketidaksukaan secara halus agar dimaknai mahasiswa secara positif. Mahasiswa bukan anak kecil yg harus dimarahi tp dengan sikap harusnya sudah bisa memahami bgmn ber 'attitude'.

    BalasHapus
  6. belum merasakan ya SMS alay dr mahasiswa..

    BalasHapus
  7. Tidak selamanya dosen harus menyampaikan kesalahan mahasiswa, terlebih mahasiswa sudah dewasa dan seharusnya dapat mengenali kesalahannya sendiri. Jika SMS tidak dibalas, maka langkah pertama tentu saja berfikir apa yang salah pada SMS nya. Jika ada kesalahan jangan sungkan tuk minta maaf, dari pada komunikasinya jadi terganggu. Jika yakin tidak ada yang salah dengan SMS nya, coba tanya ke teman yang baik perilakunya dan cakap dalam berkomunikasi. Jika kata teman tidak ada yang salah dengan isi SMS nya, barulah berfikir mungkin dosennya sibuk atau tidak punya pulsa. Jangan kirimi pulsa apalagi sambil mengenalkan diri sebagai orang yang mengirimi pulsa, nanti malah dosennya tersinggung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu saat kuliah S2, tidak selalu SMS saya dibalas sama dosen pembimbing saya.
      Saya tidak ada pikiran marah atau jengkel, yang saya pikirkan adalah jangan-jangan saya SMS di waktu yang tidak tepat.
      Tidak tepat itu bisa jadi dosen sedang mengajar atau sedang mengisi ceramah.
      Saya juga saat mengajar atau mengisi ceramah ketika dapat SMS tidak langsung saya balas, ndak mungkin saya membalas.
      Nah giliran sudah luang bisa jadi beliau lupa. Padahal SMS pasti sudah ketutup.
      Jadi lain waktu saya SMS lagi. Begitu saya. Pasti dua tiga kali SMS tetapi jangan di hari yang sama, dapat balasan kok.

      Hapus
  8. Mungkin satu lagi alasan yaitu sedang habis pulsa juga bisa dimasukkan pak. Walaupun itu termasuk kategori HP dosen bermasalah (bermasalah karena pulsa lupa belum diisi, atau karena menunggu serdos turun dulu hehehe).

    Saya sendiri termasuk tipe yang easy-going pak. Termasuk dalam menghadapi mahasiswa yang hobi SMS, terutama yanng menggunakan bahasa alay. Jika saya tidak mengerti maka saya tanya balik, teetapi jika bahasanya kelewatan maka akan saya ingatkan (kadang dengan tegas) untuk tidak dilakukan kembali.

    Saya kira posisi sebagai dosen, seperti juga guru, masih cukup di"ajen"i kok pak. Mahasiswa atau siswa masih menghargai dosennya (minimal hal itu yang selalu ada di pikiran saya, entah jika mahasiswanya berpendapat berbeda).

    Karena saat ini saya sedang menjadi mahasiswa kembali (alias Tugas Belajar) dan kebiasaan di kampus adalah menggunakan email dengan aktif, jadi saya lebih terbawa untuk melakukan komunikasi dengan dosen melalui email dibandingkan melalu SMS (atau WA, atau BBM, atau Twitter, apalagi Wechat, Kakao Talk, Line, FB Chat, instagram, juga foursquare). Kalau tidak sangat urgent terkadang menggunakan skype, setelah konfirmasi email terlebih dahulu.

    Sukses selalu pak Nasir...

    Salam dari Aberdeen,
    Danang

    BalasHapus
  9. Setujuuu.... komunikasi sangat penting untuk sukses nya suatu tujuan. Tentunya perlu sekali memahami etika untuk berkomunikasi dengan baik, terutama dengan dosen yang notabene sebagai guru di universitas. Jangan hanya menuntut untuk di mengerti tetapi cobalah untuk mengerti dengan siapa kita berkomunikasi. Orang Jawa bilang "ono unggah ungguh" nya. Mungkin ini salah satu dampak dihilangkannya mata pelajaran "budi pekerti" di sekolah dasar dan menengah, sehingga generasi sekarang yang bisa dikatakan generasi netters... bergaul dengan dunia maya, kurang sekali bersosialisasi dengan manusia lainnya.

    BalasHapus
  10. Tata cara dan etika dalam berkomunikasi baik tertulis maupun langsung itu penting sekali dipelajari sejak masih sekolah, karena nanti saat sudah bekerja, cara kita berkomunikasi, menulis surat, email, SMS, itu menunjukkan profesionalisme kita.

    Contoh seorang karyawan baru fresh graduate di kantor, bahasa emailnya acak-acakan, waktu saya koreksi, dia malah bilang suka kesel karena dulu ada dosennya malah marah2 ke dia 'hanya karena' kirim email tanpa subject. Saya harap dia bercanda, rupanya tidak. Nah, hal-hal seperti ini yang kadang masih harus dipelajari mahasiswa.

    Jaman saya kuliah sudah ada HP, tapi saya jarang SMS-an dengan dosen karena untungnya KRS di kampus sudah dilakukan secara online dan sering konsultasi/diskusi dilakukan secara online. SMS hanya dilakukan untuk hal-hal mendesak dan itupun saya selalu menyebutkan nama dan tahun angkatan di setiap SMS meskipun sebelum-sebelumnya sudah pernah SMS beliau.

    Di jaman kerja sekarang, sebagai marketing, saya saja suka malas menanggapi SMS yang isinya nggak jelas.Tidak menyebutkan nama, dari perusahaan apa, tahu-tahu langsung nanya ini itu dan menggunakan tanda baca yang berlebihan.

    BalasHapus
  11. Assalamu'alaikum.

    Mahasiswa akan senang jika SMS yang perlu balasan dibalas, bukankah menyenangkan orang lain dapat pahala, Mahasiswa juga harus berbaik sangka sama Dosen (mungkin dosen lg sibuk, hpnya ketinggalan, atau mungkin (maaf) hpnya lagi rusak atau habis pulsa lum sempat isi). Tapi biar tidak terjadi salah paham buat aturan main dan disampaikan ke mahasiswa di awal kuliah.

    Salam

    BalasHapus
  12. Setuju pak Anonim....

    BalasHapus
  13. setuju sekali bapak anonim 23:07

    BalasHapus

Silakan menulis komentar. Tulislah komentar dengan penuh tanggung jawab.

Coretan Populer